Rabu, 18 Juli 2018

Saudariku, Kenapa Engkau Memanggilku Akhi?

    Juli 18, 2018   No comments
http://coretanqibills.blogspot.com
Aku memiliki banyak teman, teman laki - laki banyak apalagi teman perempuan. Aku juga memiliki beberapa teman yang sedang melakukan hijrah agar menjadi lebih baik. Mayoritas temanku yang melakukan hijrah itu adalah kaum hawa.

Teman - teman perempuanku yang hijrah itu biasanya akan menggunakan busana ya sangat tertutup seperti cadar contohnya. Memang cadar menjadi hal yang cukup tabu di negri ini karena cadar sendiri memang bukan berasal dari Indonesia. Tapi bagiku, itu tak masalah karena mempunyai tujuan yang baik.

Selain busana tertutup, mereka juga akan mulai menutup diri dari dunia luar, terutama dari laki - laki yang bukan muhrimnya. Gaya berbicara mereka sedikit demi sedikit juga berubah. Kata - kata seperti Ukhti, Akhi, Afwan dan lainnya akan hadir ketika berbincang - bincang dengan teman - temanku ini.

Aku juga sering berbincang - bincang dengan temanku yang sedang berhijrah ini. Dia adalah seorang pelajar yang tinggal di daerah Ibukota. Dia selalu memanggilku dengan sebutan "Akhi".

Entah kenapa aku suka merasa tidak nyaman ketika dipanggil dengan sebutan itu. Maklum saja, disini aku sering dipanggil langsung dengan namaku atau ditambah beberapa sebutan seperti Mas, Kak, bahkan Pak. Apakah aku ini terlihat sangat tua sampai dipanggil pak? padahal masih ganteng dan gagah.

Sebutan "Akhi" dan "Ukhti" sebenarnya adalah budaya di Arab sana. Kebetulan Islam itu lahir di Arab sehingga agama kita ini identik dengan Arab. Tapi coba kita fikirkan, kita adalah orang Indonesia yang memiliki budaya sangat berbeda dengan Arab. Kenapa kita tidak melestarikan budaya milik kita saja?

Author : Ica Annajmussaqib | Ketua HMPS-MPI 2018-2019

Jumat, 01 Juni 2018

Tepat di Hari Pancasila, HMPS-MPI Resmi Terbentuk

    Juni 01, 2018   No comments



Tanggal 1 Juni merupakan hari Pancasila, cara merayakannyapun pasti berbeda - beda. Pada hari Pancasila tahun ini, ada yang istimewa di kampus STAIA Syubbanul Wathon Magelang karena pada hari ini (1/6), acara Musyawarah Besar (MUBES) dalam rangkaian acara pembentukan Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (HMPS-MPI) berlangsung.

Acara ini dimulai pukul 08.00 dan dibuka dengan sambutan - sambutan dari dosen STAIA serta Kepala Prodi MPI yakni Bapak Saebani. Ada hal menarik sekaligus menegangkan ketika Kepala Prodi menyampaikan sambutannya karena terjadi gempa bumi yang tidak terlalu besar. Untungnya, acara tetap terkondisikan dengan baik.

Musyawarah Besar ini membahas tentang beberapa poin, diantaranya adalah pengesahan Aturan Dasar dan Aturan rumah Tangga (AD & ART), serta pemilihan ketua pertama HMPS-MPI.


Sidang Tata Tertib dan AD/ART HMPS-MPI
Pada Sidang Tata Tertib inilah makin banyak mahasiswa yang hadir baik dari prodi MPI maupun delegasi prodi lain. Ketika sidang berlangsung, sempat terjadi ketegangan antara presiden BEM dengan Mahasiswa MPI karena perbedaan pendapat dalam menyepakati aturan yang ada dalam AD. Namun ketegangan tersebut reda setelah ditemukannya "jalan tengah".

Setelah sidang selesai, acara dilanjut dengan musyawarah pemilihan ketua HMPS-MPI yang pertama. Sayangnya, musyawarah tersebut tidak mencapai mufakat sehingga dilanjutkan dengan lobby yang juga tidak menemukan kata sepakat. Akhirnya metode voting dipilih dalam pelaksanaan pemilihan ketua HMPS-MPI STAIA Syubbanul Wathon.

Dari proses voting tersebut, akhirnya terpilih satu nama yang akhirnya mnejadi ketua pertama HMPS-MPI STAIA Syubbanul Wathon, yaitu Ica Annajmussaqib yang berasal dari semester 3 kelas reguler.

Ica Annajmussaqib (Ketua HMPS-MPI 2018-2019)

Dengan terpilihnya ketua serta disepakatinya peraturan - peraturan tadi, maka HMPS-MPI resmi terbentuk dan siap ikut serta dalam memajukan STAIA Syubbanul Wathon, khususnya prodi MPI. Semoga kedepannya, HMPS-MPI bisa istiqomah berperan dalam kemajuan kampus kita tercinta.

Reporter : Muhammad Adnan | Mahasiswa MPI Semester 7

Minggu, 10 Desember 2017

Peduli Bencana Jogja, STAPALA Syubbanul Wathon Adakan Penggalangan Dana

    Desember 10, 2017   No comments

Bencana banjir yang melanda daerah Gunungkidul membuat duka tersendiri bagi masyarakat di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa Gunungkidul adalah wilayah yang cukup sulit untuk mendapatkan air.

Tingginya curah hujan serta Siklus Cempaka menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Gunungkidul. Tempat berkumpulnya air seperti sungai dan waduk yang tidak lagi menampung air hingga akhirnya air tersebut meluap dan mengalir ke pemukiman warga. Banyaknya sampah dan batu di sungai juga menjadi salah satu penyebab bencana ini.

STAPALA Syubbanul Wathon

Mendengar kabar tersebut, Mahasiswa Pecinta Alam STAIA Syubbanul Wathon atau STAPALA tidak tinggal diam. Mereka mengadakan kegiatan penggalangan dana di sebuah perempatan yang berada di depan kampus STAIA Syubbanul Wathon. Tempat tersebut dipilih karena terdapat lampu lalu lintas sehingga memudahkan mahasiswa untuk menggalang dana kepada setiap warga yang berkendara. Kegiatan ini juga telah mendapatkan izin dari Polsek Kecamatan Tempuran.

Selain di perempatan Meteseh, beberapa Mahasiswa juga bertolak ke Borobudur untuk menggalang dana. Ada juga Mahasiswa yang berkeliling ke warung dan pabrik di wilayah Kecamatan Tempuran untuk meminta donasi. Warga sekitar juga mengapresiasi dengan memotret Mahasiswa ketika menggalang dana serta memberi donasi tentunya.

Aksi penggalangan dana ini dilakukan selama 2 hari mulai dari tanggal 2 - 3 Desember 2017. Ketika uang yang terkumpul telah mencapai target akan dibelanjakan Sembako yang nantinya dikirimkan ke lokasi bencana.

Berita ini sudah pernah terbit di Kartika News dengan judul Peduli Bencana Jogja, STAPALA Syubbanul Wathon Adakan Penggalangan Dana.
© 2018 STAIA CORNER. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.