Advertise Here

Unit Kegiatan Mahasiswa

Himpunan Mahasiswa

Karya Terbaru

Tips & Trik

Akademik

Kamis, 17 Januari 2019

REVIEW BUKU “REORIENTASI EKONOMI SYARIAH”

    Januari 17, 2019   No comments
IDENTITAS BUKU

Judul Buku      : Reorientasi Ekonomi Syariah
Judul Asli        : Reorientasi Ekonomi Syariah
Penulis             : Ahmad Mustofa, Unggul Priyadi, H. Mahmudi
Penerjemah      : -
Penerbit           : UII Press Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, Juli 2004
Tebal               : XIV + 256 halaman

bukalapak.com

TENTANG PENGARANG
Pengarang buku ini adalah Ahmad Mustofa, Unggul Priyadi, dan H. Mahmudi. Ahmad Mustofa lahir di Magelang, tanggal 21 April tahun 1977. Ia menyelesaikan studi dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002) dan PPS MSI UII Yogyakarta (2008) ia menjadi staf pengajar di STAI Alhusain Magelang (2010-sekarang). Sebelumnya penulis menjadi staf dari Lembaga Keuangan Syariah di Yogyakarta (2003-2010) dan staf Litbang di GIM Training Centre Yogyakrta (2010-2011). Alamat email penulis mustofa.ahmad8@gmail.com
Unggul Priyadi, alumnus Fakultas Ekonomi UNSOED Purwokerto, program studi  Ilmu Ekonomi Umum (Drs), program studi S2 pada Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan, PWD (M Si) Institut Pertanian Bogor dan program studi S3 Ilmu Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang. Semenjak tahun 1988 sampai saat ini sebagai dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Kepala UII PRESS mulai tahun 2010 dan Anggota Dewan Redaksi Jurnal Unisia. Penulis juga aktif melakukan riset bidang ekonomi dan pembangunan serta menulis artikel di berbagai jurnal ilmiah.
H. Mahmudi, lahir di Sleman, 16 Agustus 1977. Menyelesaikan studi S1 Jurusan Syariah/Muamalat di UIN Sunan Kalijaga dan S2 Jurusan Ekonomi dan Keuangan di UII Yogyakarta, kemudian penulis menjadi Konsultan/Tenaga Ahli Pengembangan UMKM di Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Yogyakarta. Penulis juga pernah mengajar di UII dengan Prodi Ekonomi dan Keuangan. Alamat email penulis adalah syah_biru70@yahoo.co.id

TENTANG BUKU
Buku Reorientasi Ekonomi Syariah ini merupakan buku edisi pertama yang diterbitkan pada tahun 2004 oleh penerbit UII Press Yoogyakarta. Sekilas buku ini terlihat sederhana namun ketika diperhatikan dengan seksama buku ini termasuk mengandung pembahasan yang cukup komplek diaman buku ini  terdiri dari 7 bab dan dalam tiap bab memiliki pembahasan dengan substansi masing-masing.
Secara garis besar buku ini memuat hukum-hukum dan syarat-syarat dalam ekonomi syariah, peran ekonomi syariah serta hal-hal yang tidak boleh melekat dala ekonomi syariah.


ISI BUKU
1.      Seputar Pengertian Riba Dan Permasalahannya
Dalam poin ini, penulis memulai pembahsan dasar mengenai konsep riba, yakni pengertia riba dan larangan, macam-macam bentuk riba,pandangan antara riba dan bunga, hikmah diharamkannya riba. Ada yang menarik dalam pembahasan poin atau bab ini yakni perbedaan antara istilah ar-Riba dalam al-Qur’an dengan istilah bunga dalam perspektif kapitalis, dijelaskan dalam buku ini bahwa kedua hal tersebut hanya merupakan perbedaan tingkat saja dan bukan merupakan perbedaan jenis, sebab baik riba maupun bunga merupakan ekses atas modal yang dipinjam. Antara riba dan bunga hanya berbeda tingkat saja, namun merupakan jenis yang sama.

2.      Ekonomi Syariah dan Keberpihakannya Terhadap Sektor Riil
Pada bab ke-2 ini pembahasan meliputi sejarah ekonomi islam yakni pada zaman nabi hingga sahabat kemudian perpindahan ekonomi sector riil ke moneter hingga kontrak-kontrak atau akad dalam fiqih.

3.      Ekonomi Syariah Tersandera Oleh Sistem Perbankan
Penulis memandang bahwa polemik LKS yang terjadi saat ini adalah bentuk ketidak berdayaan LKS dalam upaya mengakomodir berbagai system kontrak bisnis komersial muammalah ke dalam produk LKS (dalam hal ini adalah lembaga perbankan). Ketidak berdayaan ini terutama berkaitan dengan permasalahan yang berhubungan dengan regulasi Bank Indonesia berkenaan dengan sistem operasional lembaga perbankan, sehingga LKS (perbankan syariah) sebagai sebuah lembaga keuangan yang berada di bawah otoritas bank sentral tidak mempunyai pilihan lan selain harus tunduk dan patuh terhadap regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga otoritas tersebut.

4.      Kaedah Fiqih : Al’ibrah fii al-‘uquud lil maqaashid wa al-ma’aaniy, laa lil alfaadz wa al-mabaaniy
Bab ke-4 ini membahas mengenai pengertian ushul fiqh dan fiq, fiqh sebagai disiplin ilmu, qawa’idul fiqhiyyah; pengertian dan konsekuensi hukumnya, kaedah fiqh al’ibrah fii al-‘uquud lil maqaashid wa al-ma’aaniy, laa lil alfaadz wa al-mabaaniy terhadap penerapan akad syariah di lembaga keuangan syariah, pendapat ulama mengenai Multi akad, Multi Akad di LKS.
Pada bab ini penulis ingin menunjukkan bahwa ada dasar atau kaedah yang dapat digunakan sebagai landasan dalam penerapan praktik akad dalam lembaga keuangan syariah.

5.      Revitalisasi peran lembaga keuangan syariah
Pada bab ke-5 ini setidaknya ada tiga poin pembahasan yaitu; meluruskan peran LKS; sebagai manajer investasi maupun sebagai lembaga intermediasi antara pemodal dengan pengusaha, optimalisasi ijarah sebagai solusi terhadap peran dan fungsi LKS, meminimalkan paradigm Bank Minded dalam LKS. Penulis ingin meunjukkan bahwa lembaga keuangan syariah memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Melalui berbagai macam skema seperti menjadi manajer investasi, menjadi lembaga intermediasi/lembaga penghubung antara pemodal dengan pengusaha dengan tujuan untuk memanfaatkan dana pihak ketiga yang kemudian akan dioptimalisasi dan mendapatkan keuntungan dari bagi hasil.
6.      Baitul Maal Wat Tamwil : Kembali Ke Khittah
Pada bab ke-6 ini ada beberapa pembahasan mendasar mengenai yaitu, pembahasan tentang baitul maal wat tamwil, khittah baitul maal wat tamwil, produk baitul maal wat tamwil, kendala, serta sumber modal BMT. Tentunya dalam bab ini penulis memandang bahwa BMT memiliki dua konsep yang sangat baik konsep pertama sebagai lembaga sosial yang berfungsi menggalang dana sosial seperti zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf. Kedua sebagai lembaga atau institusi yang mencari keuntungan melalui transaksi syariah.

7.      Memetakan Penggiat Ekonomi Syariah di Indonesia
Pada bab terakhir ini penulis memandang bahwa ada problem dikalangan ahli hukum islam terkait dengan ekonomi islam, yakni pendapat dari kelompok tradisionalis yang berpendapat bahwa ekonomi islam sebagaimana aspek lain dalam Islam, dapat langsung di breakdown dari hukum Islam yang ada. Kalangan ini juga berpendapat bahwa semenjak hokum islam dilegislasikan maka ekonomi Islam tidak perlu dikontekstualisasikan dengan kondisi sekarang. Kelompok kedua, berpendapat bahwa sumber-sumber Islam utama tidak mengandung informasi yang cukup untuk pembangunan system ekonomi terintegrasi yang mampu menyelesaikan masalah ekonomi saat ini.

KESIMPULAN
Dalam buku Reorientasi Ekonomi Syariah ini penulis mampu melihat problem ekonomi islam dan menemukan sebuah solusi, sehingga buku ini memiliki maksud untuk memberi keyakinan kepada pembaca bahwa ekonomi islam tidak perlu diragukan lagi. Sehingga paradigma masyarakat modern yang cenderung menganggap ekonomi islam berbeda dengan praktik ekonomi sehari-hari dapat terbantahkan. Namun penulis juga menekankan dalam buku ini bahwa dalam praktik nya ekonomi syariah masih tercampur dengan ekonomi konvensional. Maka perlu dilakukannya sebuah reorientasi atau orientasi kembali kepada masyarakat luas khususnya Indonesia agar tidak gagal paham dengan konsep ekonomi syariah.

Komentar :
Buku ini memiliki kelebihan diantara nya adalah bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah untuk dimengerti. Dalam buku ini tidak hanya menyajikan teori-teorinya saja tetapi juga sebagian besar isi tiap bab-nya disertai ayat-ayat Al-Quran sehingga berfungsi untuk menguatkan teori-teori yang ada dalam buku tersebut. Selain itu pada setiap bab nya terdapat kesimpulan yang kemudian disertai pendapat dari sang pengarang sehingga kita dapat lebih memahami buku ini. Hanya saja melihat bahasa yang digunakan dalam buku ini terkesan hanya untuk pemahaman kalangan umat Islam tidak untuk pemahaman masyarakat secara umum.

Sabtu, 15 Desember 2018

Sosialisasikan Kebijakan Pendidikan, STAIA SW Adakan Seminar Nasional Bersama OMBUDSMAN RI

    Desember 15, 2018   No comments
Ahmad Suaedy
       Sekolah Tinggi Agama Islam Al Husain (STAIA) Syubbanul Wathon Magelang bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (HMPS-MPI) mengadakan Seminar Nasional pada  Sabtu (15/12/2018). Seminar Nasional kali ini mengusung  tema “Good Governance Dalam Kebijakan Pendidikan Di Indonesia” dengan menghadirkan komisioner OMBUDSMAN RI yakni Ahmad Suaedy.

         Selain Ahmad Suaedy, Pemerintah Daerah serta Kemenag Kabupaten Magelang turut hadir untuk memberikan sambutan dan beberapa materi terkait pendidikan ini. Acara tersebut dimulai pukul 10.00 dengan khidmat karena semua peserta sudah berkumpul di Meeting Hall STAIA Syubbanul Wathon Magelang untuk mengikuti acara.

Peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika pembukaan acara

         Seminar Nasional ini dihadiri oleh 150 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SLTA, mahasiswa STAIA, mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Tengah hingga para tenaga pendidik dari sekolah di daerah Magelang. Bahkan ketika pendaftaran saja, panitia yakni HMPS-MPI sempat keteteran ketika pendataan karena kuota yang dengan cepatnya terpenuhi.

        Acara tersebut sepenuhnya di-handle oleh HMPS-MPI dan difasilitasi oleh STAIA Syubbanul Wathon Magelang. Harapannya, peserta seminar bisa lebih tahu mengenai kebijakan pemerintah tentang pendidikan di Indonesia dan bisa memanfaatkan kebijakan tersebut dengan baik. Seminar ini sekaligus menjadi sosialisasi Kebijakan Pendidikan di Indonesia.

Panitia Seminar ORI (HMPS-MPI)

Reporter : Candra Agustina | Mahasiswa MPI angkatan tahun 2018

Sabtu, 22 September 2018

Membakar Buku Adalah Sebuah Kejahatan

    September 22, 2018   No comments
google.co.id
Apa yang sebenarnya ada dibenak pemimpin dimasa ORBA,mereka bukan saja merampas nyawa para orang-orang yang jauh dari kata salah,namun rakyat kesulitan sperti halnya mencari jarum di tumpukan jerami untuk mencari dimana letak keberadaan keadilan pada masa itu.ketidak adilan itu setiap hari menghantui negeri ini,korbannya pun mereka pukul rata dari beberap rakyat,tokoh agama,aktivis ditahan tanpa diadili,kejahatan yang lain ada juga dimasa itu seperti Pembakaran buku dilakukan dimana-mana,betapa terkekangnya khususnya aktivis dan umumnya rakyat pada masa itu karena perampasan hak asasi ,lebih parahnya lagi ketika rakyat tidak boleh mengutarakan aspirasinya dengan lepas terhadap pemerintah,apakah seperti ini yang disebut kepemerintahan? 

Apakah kita akan membiarkan hal itu terulang lagi? beteapa bodohnya tindakan itu,bangsa yang besar namun membiarkan pelenyapan sumber pengetahuan,coba kita renungkan sejenak bahwa manusia itu terlahir dalam keadaan bodoh,dan buta ilmu pengetahuan maka dari itu diperlukan sebuah proses belajar,mengenali sebuah lingkungan,belajar merangka,dan kemudian berjalan itu semua serangkaian dalam mendapatkan sebuah pengetahuan. 

kemudian saat kita memasuki umur 2-3 tahun,kita diajari oleh orang tua kita,membaca berhitung dan lain sebagainya.Setelah memasuki Sekolah Dasar berlahan sudah mulai berlatih belajar mandiri,dan yang dibutuhkan adalah sumber pengetahuan itu sendiri,baik melaui diskusi dengan teman,menyerap sebuah informasi dari sebuah media,dan yang paling penting adalah kita membutuhkan sebuah buku bacaan. 

Namun masih ada saja orang-orang yang melakukan kebodohan dengan membakar buku dari zaman ke zaman,bahkan pada abad yang sudah modern seperti sekarang ini masih saja ada dan mereka tidak tanggung-tanggung dalam melakukan tindakan bodohnya itu,seperti beberapa peristiwa kejahatan pembakaran buku yang terjadi dinegara lain. 

Lebanon 4 januari 2014
Perpustakaan saeh,tripoli
hampir seluruh 80 ribu buku dibakar karena ditemukan selebaran yang menghina Islam.

Arsip nasional Bosnia dan Herzegovina,Sarajevo,
Bosnia dan Herzegovina, 7 Februari 2014

Tersangka teroris,Salem Hatibovic & Nihad Trnka, menghanguskan hampir seluruh dokumen perpustakaan tersebut.

Perpustakaan-perpustakaan Mosul,Irak,
2014 - sekarang

Militan ISIS membakar ratusan dokumen langka dan 8.000 buku di perpustakaan Mosul.

Dengan adanya peristiwa pembakaran sumber pengetahuan semacam itu apakah kita akan membiarkan begitu saja.Bukankah buku adalah sumber pengetahuan bagi manusia?
mari tanamkan dikeluarga kita tercinta budaya membaca dan menjaga isi buku dan katakan BACALAH bukan BAKARLAH!(meminjam istilahnya alm.Pram)


Sosial-Budaya

Oleh : Sofian Sauri | Sekretaris HMPS-MPI

Senin, 17 September 2018

Rindu Malaikat

    September 17, 2018   No comments
src : dakwatuna.com
Kala senja mulai berganti malam
Terlihat jelas awan-awan hitam berpayung di sudut tengah kota
Tak terasa hembus angin perlahan mulai memberikan isyarat
Tik..tik..tik rintik hujan pun mulai membasahi tanah kota kelahiranku
Terlintas dibenakku akan hari esok
Mungkin aku tak lagi berpijak di kota yang penuh kenangan ini
Itulah kotaku "Kota Sejuta Bunga"
Suka, duka ,maupun tawa telah ku lewati bersama orang-orang yang ku cinta
Berat ku rasa meninggalkan sanak saudara
Namun aku tak kuasa menahan rindu
Rindu kepada malaikatku
Malaikat tanpa sayap
Dialah IBUKU
Ibu yang berada diseberang pulau sana
Tak lama lagi kita berjumpa


Tersadar dalam lamunanku
Aku mulai bergegas berkemas untuk jumpa dengan ibuku
Perjalanan panjang malam itu di iringi dengan derasnya hujan telah terlewat
Bahagia rasanya tak sabar akan hari esok
Tak terasa mentari dengan malunya menampakkan wajah sinarnya
Kini tiba saatnya detik-detik pertemuan seorang anak yang rindu kepada ibunya
Ohh ibuku...dengan rona wajah senyumnya yang khas
Terpancar kebahagiaan
Tak mampu lagi aku mengatakan selain kata-kata "aku rindu bu"
Senyummulah yang selalu ku rindu


Dalam bait-bait rinduku
akan selalu terselip lantunan do'aku untukmu bu
Semoga engkau selalu terjaga dalam lindunganNya

#Amin

Author : Piping Haryanti

Kamis, 13 September 2018

Peringatan Dari Yang Maha Mengingatkan (Part1)

    September 13, 2018   No comments
Sebuah kisah nyata salah satu Mahasiswa STAIA Syubbanul Warthon Magelang...

Ica Annajmussaqib
Sebelum aku menuntut ilmu di STAIA Syubanul Wathon, aku pernah bekerja sebagai seorang operator di salah satu SPBU milik Pertamina. Aku merasa senang dan menikmati pekerjaanku disana. Sayangnya, aku mulai mencium bau kejanggalan dari pekerjaan tersebut. Kejanggalan tersebut adalah sebuah kecurangan dalam menakar BBM yang dibeli oleh para pelanggan.

Meski aku sudah mengetahui tentang kecurangan tersebut, aku justru larut dalam "permainan" yang juga dilakukan oleh rekan - rekan kerjaku. Saat itu aku tidak tidak peduli dengan haram atau halalnya uang yang kuterima dari hasil "permainan " tersebut.

Hari demi hari berlalu sejak aku bergabung dalam "permainan" tersebut. Setiap harinya aku bisa mendapatkan tambahan uang yang cukup banyak, bahkan lebih besar daripada gajiku per harinya. Aku tidak pernah berfikir untuk mengakhiri "permainan" tersebut, hingga akhirnya karrierku sebagai operator SPBU harus berakhir.

Pada tanggal 14 Desember 2016 lalu, aku mengalami sebuah musibah yang membuat pandanganku terhadap dunia menjadi berubah. Saat itu, tepatnya pukul 18.30 dimana itu adalah waktu untuk kita beribadah, aku bersiap - siap untuk pulang. Entah kenapa hari itu aku mendapat shift tengah dimana jam kerjanya dimulai pukul 10.00 sampai 18.00.

Ketika perjalanan pulang, aku ditemani dengan rintik hujan yang jatuh membasahi tubuh dan setiap sudut motorku. Aku harus berhati - hati dalam mengendalikan motor karena jalanan yang licin.

Selama perjalanan aku merasa khawatir tanpa tahu apa penyebabnya, hingga tiba - tiba mobil di depanku berhenti mendadak. Aku pun langsung menarik tuas rem sehingga menyebabkan ban motorku mengunci dan tergelincir menabrak mobil tersebut.

Aku terpental cukup jauh dari motorku hingga akhirnya terhenti di kanan jalan. Dari lawan arah, datang mobil SUV yang melaju dengan kecepatan sedang. Akhirnya, kaki kiriku terlindas mobil tersebut dan mengalami cidera yang cukup parah.

Ketika kakiku terlindas, aku tidak merasakan apapun karena dalam kondisi setengah sadar. Kesadaranku mulai pulih ketika orang - orang mengangkat mobil yang melindas kakiku dan memindahkanku. Orang - orang itu pun langsung bertanya tentang identitasku, namun aku tidak bisa menjawabnya karena kesulitan bicara. Untungnya aku membawa dompet yang di dalamnya tetdapat KTP milikku.

Setelah itu, orang - orang mulai mengangkat dan memasukkanku ke dalam mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit Terdekat. Inilah moment yang tak bisa kulupakan karena rasa sakit luar biasa menghampiri ketika orang - orang menyentuh kakiku yang patah ini.

Sebelum perjalanan pulang ke rumah pasca operasi

tunggu part selanjutnya...

Author : Ica Annajmussaqib | Ketua HMPS-MPI STAIA SW 2018 - 2019

Selasa, 11 September 2018

Apa yang Beda Dengan OSPEK 2018?

    September 11, 2018   11 comments
Mahasiswa Baru Staia Syubbanul Wathon Magelang 2018 (putri)
Ada cerita yang berbeda di OSPEK 2018 STAIA Syubbanul Wathon Magelang. Tahun ini, rangkaian kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru Tahun 2018 di desain dengan alur yang cukup berbeda. Ada Sentuhan Mindsetting diawal sebelum peserta mendapat materi. Mindsetting di konfigurasi dengan tujuan peserta dapat memahami dengan baik latar belakang dan tujuan OSPEK 2018. 

Setelah peserta memahami latar belakang dan tujuan OSPEK, dengan metode partisipatif peserta diajak untuk mengenali dirinya sendiri. Ini adalah segmen dimana peserta diarahkan untuk approve bahwa dirinya adalah Mahasiswa , bukan yang lain. Semula yang menganggap identitas dirinya bukan mahasiswa diarahkan untuk bisa memahami siapa dirinya (maaf kalau terkesan memaksa) ini adalah bagian dari menganalisa diri. Penting bagi peserta untuk mengenali diri nya sendiri sebelum melangkah lebih jauh dalam Alur kegiatan. 

Hal ini bertujuan agar ada relevansi berpikir tentang siapa dirinya, apa yang sedang dilakukannya, dan bagaimana paradigma sesuai dengan jati diri nya. Setelah mengenali dirinya sendiri, peserta diajak untuk menyelami hal-hal negatif yang pernah dilakukan. Hal ini bagian dari proses untuk menganalisa kondisi real peserta. Prinsip keterbukaan, dan saling percaya memegang peran penting dalam segmen ini. Peserta kemudian diarahkan untuk berkomitmen dan meluruskan niat untuk melakukan perbaikan yang positif dan disesuaikan dengan profil mahasiswa ideal (kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis). Setelah meluruskan niat, peserta dibimbing untuk berikrar yang isi nya adalah kesungguhan untuk mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. 

4 Instruktur dan Ketua Panitia (Tengah)
Semua tahapan diatas dilakukan oleh 4 Instruktur yang masing-masing memiliki peran berbeda. Dengan pembagian peran sebagai berikut : 

Koordinator, yang bertugas mengkondisikan kelas, membuka session, menjabarkan nama OSPEK secara Bahasa dan istilah, Latar belakang OSPEK, dan Tujuan OSPEK. 

Orientator, mengarahkan peserta untuk menganalisa diri dan menemukan jati diri. 

Motivator, menganalisa kondisi real sifat negatif peserta dan mengubahnya menjadi sifat positif yang disesuaikan dengan profil mahasiswa ideal. 

Petugas Ikrar, membimbing peserta untuk berikrar dengan kesungguhan akan mengikuti kegiatan dengan sebaik mungkin dari awal hingga akhir. 

Semua proses diatas kurang lebih dilaksanakan selama 1 jam lebih 10 menit. 

Sesuatu yang berbeda berikutnya di OSPEK tahun 2018 adalah ada nya malam inagurasi. Sebuah acara yang bertujuan untuk mengenalkan kehidupan kampus dan segala komponen yang ada di dalam nya. Terlebih untuk tahun ini di fokuskan pada keakraban mahasiswa baru. Sebuah proses yang dilakukan dengan konsep satu cahaya lilin yang dikelilingi oleh dua mahasisa yang masing-masing di pasangkan secara acak. Rangkaian malam inagurasi ini kami sebut dengan nama MAKOSBAR, yang berarti “Malam Kosong Bareng” . 

MAKOSBAR
MAKOSBAR memiiki arti untuk mengosongkan atau mengeluarkan segala rasa yang terpendam (curhat), MAKOSBAR juga bertujuan untuk mengarahkan peserta agar meninggalkan sifat-sifat yang tidak baik sewaktu di SMA sederajat dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan. Dua Peserta yang berhadap-hadapan saling berpegang tangan dan di tengah nya ada sebuah lilin yang menerangi dua peserta tersebut. lilin di tengah kegelapan peserta adalah penjelmaan dari harapan, dimaksudkan bahwa akan selalu ada harapan di tengah kesulitan, kepahitan, dan kesusahaan. Never lost hope! 

Peserta diajak untuk bisa menerima teman yang ada didepannya, yang menjadi pasangannya tersebut. Agar dapat menaruh rasa Saling percaya dan terbuka yang merupakan kunci pertemanan yang baik. Setelah itu peserta diarahkan untuk saling berbagi kisah secara bergantian hal ini dimaksudkan agar semakin tumbuh rasa saling percaya dan terbuka. Hal tersebut juga bertujuan untuk memotivasi peserta melalui sharing story dan mengambil hikmah dari cerita yang disampaikan. 

Setelah proses ini selesai peserta, dipersilakan untuk menyampaikan apa pelajaran berharga yang dapat di petik dari mendegarkan kisah yang disampaikan oleh pasangannya di depan semua mahasiswa. Acara ditutup dengan menyanyikan lagu bersama-sama. 

Author : Saryadi | Presiden BEM STAIA SW Magelang 2017 - 2018

Rabu, 18 Juli 2018

Saudariku, Kenapa Engkau Memanggilku Akhi?

    Juli 18, 2018   No comments
http://coretanqibills.blogspot.com
Aku memiliki banyak teman, teman laki - laki banyak apalagi teman perempuan. Aku juga memiliki beberapa teman yang sedang melakukan hijrah agar menjadi lebih baik. Mayoritas temanku yang melakukan hijrah itu adalah kaum hawa.

Teman - teman perempuanku yang hijrah itu biasanya akan menggunakan busana ya sangat tertutup seperti cadar contohnya. Memang cadar menjadi hal yang cukup tabu di negri ini karena cadar sendiri memang bukan berasal dari Indonesia. Tapi bagiku, itu tak masalah karena mempunyai tujuan yang baik.

Selain busana tertutup, mereka juga akan mulai menutup diri dari dunia luar, terutama dari laki - laki yang bukan muhrimnya. Gaya berbicara mereka sedikit demi sedikit juga berubah. Kata - kata seperti Ukhti, Akhi, Afwan dan lainnya akan hadir ketika berbincang - bincang dengan teman - temanku ini.

Aku juga sering berbincang - bincang dengan temanku yang sedang berhijrah ini. Dia adalah seorang pelajar yang tinggal di daerah Ibukota. Dia selalu memanggilku dengan sebutan "Akhi".

Entah kenapa aku suka merasa tidak nyaman ketika dipanggil dengan sebutan itu. Maklum saja, disini aku sering dipanggil langsung dengan namaku atau ditambah beberapa sebutan seperti Mas, Kak, bahkan Pak. Apakah aku ini terlihat sangat tua sampai dipanggil pak? padahal masih ganteng dan gagah.

Sebutan "Akhi" dan "Ukhti" sebenarnya adalah budaya di Arab sana. Kebetulan Islam itu lahir di Arab sehingga agama kita ini identik dengan Arab. Tapi coba kita fikirkan, kita adalah orang Indonesia yang memiliki budaya sangat berbeda dengan Arab. Kenapa kita tidak melestarikan budaya milik kita saja?

Author : Ica Annajmussaqib | Ketua HMPS-MPI 2018-2019
© 2018 STAIA CORNER. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.